Isu akan terjadinya gempa bumi dan badai tsunami terkait Gerhana Matahari Total (GMT) pada 22 Juli 2009 tidak bisa diprediksi, apalagi sampai secara spesifik menyebutkan waktu, tempat dan kekuatannya secara eksak.
Pernyataan itu dikemukakan Kepala Hubungan Masyarakat Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, Edison Gurning, kepada Kominfo Newsroom di Jakarta, Rabu (22/7).
Sebelumnya di media internet dalam beberapa hari terakhir ini tersebar isu terkait GMT tanggal 22 Juli 2009 yang akan memicu terjadinya gempa bumi dan badai tsunami.
Isu menyebutkan, akan terjadi gempa dengan kekuatan mencapai 6,0 skala richter (SR) di Jepang, mendahului terjadinya GMT. Gempa diisukan akan terjadi hari Rabu, 22 Juli 2009 pukul 03.00 waktu Jepang, diikuti dua kali gempa susulan dengan kekuatan antara 5,0 SR pada pukul 05.00 dan 07.00 waktu setempat.
Badai tsunami juga diisukan akan terjadi akibat gempa bumi lempeng Pasifik dan akan menghantam wilayah Jepang, Indonesia dan Selandia Baru.
Sampai saat ini gempa bumi tidak dapat diprediksi, apalagi secara spesifik. Sedangkan tsunami dapat diprediksi setelah gempa bumi besar terjadi dengan syarat-syarat tertentu, misalnya kekuatannya melebihi 6,0 SR, kedalaman dangkal dan episenter di laut, katanya.
Menurutnya, isu-isu itu jelas sangat tidak bertanggung jawab, selain karena sumbernya tidak jelas, juga kejadian gempa bumi yang sangat sulit diprediksi.
Namun demikian, menurut Edison, bisa saja gempa bumi terjadi sewaktu-waktu di lokasi-lokasi tertentu, sehingga kewaspadaan masyarakat tetap perlu setiap waktu, terutama di daerah-daerah yang rawan gempa dan tsunami. Kewaspadaan tetap perlu, tapi tidak hanya tanggal 22 Juli 2009, tapi setiap saat, katanya.
Berdasarkan catatan spesifik BMKG mengenai Gerhana Matahari Total yang pernah terjadi, kata Edison, hingga saat ini belum ada catatan yang menunjukkan adanya kenaikan aktivitas gempa terkait dengan GMT.
Pada Juni 1982 di Indonesia pernah dilalui GMT selama enam menit, dan BMKG waktu itu melakukan pengamatan di Tanjung Kodok, Tuban, Jawa Timur dan di sekitar Gunung Muria, Jawa Tengah menjelang dan sesudah terjadi GMT.
Data menunjukkan tidak ada kenaikan aktivitas gempa bumi, katanya.
Dikemukakan, kejadian fenomena alam gerhana dan gempa bumi sangat berbeda. Gerhana, bukan hanya diprediksi, tapi dihitung secara pasti, bahkan sepanjang abad XXI sudah dapat ditentukan, sedangkan untuk gempa bumi
sampai saat ini masalah prediksinya masih banyak perdebatan karena ketidakpastiannya.
Menurut Edison Gurning, secara teoritis gempa bumi memang bias diprediksi, itupun tidak sampai detail waktu dan kekuatannya yang akan terjadi.
Dalam penelitian prediksi gempa bumi di banyak negara, katanya, fenomena GMT bukan menjadi salah satu fisis secara langsung yang diperhitungkan sebelum terjadinya gempa bumi. Fenomena GMT yang menyebabkan terjadinya peningkatan gravitasi bumi hanya beberapa hal yang secara umum tidak signifikan memengaruhi aktifitas lempeng tektonik atau sesar aktif. (T.Rmg/ysoel)



